Enak mana? Lahiran Normal atau Caesar?

Berdasarkan pengalaman pribadi.......

Puji Tuhan.....sudah lahir anak ke dua kami Maria Emmanuela Kristianto pada tanggal 1 April 2014 dengan proses lahir normal.

Ternyata banyak orang yang salut saya bisa lahir normal......hehehehe.....berkat niat dan doa serta dukungan dari suami, dokter dan bidan di RS.

Ternyata yang salut itu, karena heran......kok yang pertama caesar, tapi yang kedua malah normal?  Sebenernya, tujuan awal saya untuk lahiran normal, supaya bisa menginap di kelas 1, bukan di kelas 3, jadi disesuaikan dengan jatah dari kantor suami.  Alasan selanjutnya......saya kurang nyaman dengan proses operasi yang tidak bisa di tunggui suami, hanya ditemani dokter, asisten, perawat dan dokter anak.....menurut saya, ruang operasi itu kurang friendly.  Karena kedua alasan tersebutlah....saya menguatkan tekad untuk lahiran secara normal, walau rasa hati deg deg an.

Masuk kamar bersalin tanggal 31 Maret 2014 jam 10 pagi.....di cek oleh bidan, ternyata tinggi perut belum sesuai kriteria untuk lahiran, maka dipanggilah dokter  yang memang dokter favorit sejak anak pertama.  Setelah diperiksa bagian dalam.....ternyata sudah bukaan 1...........dalam hati mulai geer........wah.....bukaan satu aja ga berasa............

Setelah dicek dan ricek oleh bidan......ternyata baru 36 minggu, kenapa dokternya langsung menyarankan untuk langsung dibawa ke kamar bersalin?  Setelah saya ingat ingat, memang baby yang ada diperut sudah 3 kg, dan perut saya tidak sebesar waktu hamil anak pertama, kalau dibiarkan bertumbuh sampai 38 minggu dikhawatirkan akan bertambah besar dan harus di caesar lagi, sementara saya memang ngotot untuk normal.  

Maka diputuskan untuk induksi dengan gastrul......munculah mules setiap 5-6 menit sekali.......ahhh, masih bisa diatasi......cuma begini aja nih??  Saya masih sempet ngemil, main bola besar yang diduduki untuk mempercepat proses bukaan.  Dokter datang untuk mengecek, dan bilang 'Kalau masih bisa senyum, berarti mulesnya masih kurang sukses, induksi lagi ya.....biar cepet lahir, dan ga kelamaan.'  Saya setuju saja, daripada kelamaan di kamar bersalin.  Setelah induksi untuk kedua kalinya, mules mulai muncul setiap 5 menit sekali tetapi minta ampun.........rasanya sampai ke pinggang.  Terus menerus mules, membuat saya hanya terbaring di tempat tidur sambil bolak balik menahan sakit.........keringat mulai menetes, padahal ac pol.  Dalam hati kesal dengan suami......duh.....enak bener jadi suami, cuma nungguin, ga merasakan apapun, udah sembilan bulan mengandung, membawa perut besar kemana mana, lahiran pun harus berjuang.  Kebetulan suami sedang menunggu diluar, saya minta untuk masuk menemani,  habis.....kalau mules bertambah sering dan sakit, siapa yang bisa saya marahi dan saya cubit?  Untung suami tidak keberatan.  Jam 9 malam ketuban pecah.........wah......tiba tiba keluar air begitu banyak.......saya dan suami khawatir kalau anak kami keracunan air ketuban, tapi dokter bilang 'Everything its ok'

Rasanya saat itu saya benar benar mempertanyakan keputusan saya untuk proses melahirkan normal, yang ternyata begitu sakit dan memakan waktu cukup lama, sedangkan caesar, cukup singkat.........masuk ruang operasi, suntik bius lokal di pinggang, tiduran, tiba tiba.............terdengar suara baby, kemudian dicek oleh dokter anak, sambil dokter menjahit guntingan diperut bagian bawah, bayi melakukan IMD.......dan saya dibiarkan tidur sampai efek bius hilang, semua aktifitas dibantu suster, hari kedua , mulai latihan duduk, bangun dan berjalan.  Hari ketiga sudah bisa mandi sendiri, hari keempat boleh pulang......dan taraaaa......sudah bisa beraktifitas seperti biasa.

Nah......kalau ini, saya begitu merasakan perjuangan ibu ibu jaman dulu, proses lahiran tanpa pilihan, hanya normal, kecuali ada indikasi bayi atau ibu mengalami masalah.  Sudah begitu, ibu jaman dulu punya banyak anak.  Kalau dipikir pikir......ibu ibu kita itu hebat loh, mau bayinya besar atau kecil, tetap normal.    Akhirnya dibukaan ke 5 saya hampir menyerah, minta proses operasi, tapi bidan dan dokter menolak, karena tidak ada indikasi yang mengharuskan untuk operasi.  Terus terang, saat itu saya marah, bukanya itu hak pasien untuk normal atau operasi?  Tapi bidan kembali menenangkan, bahwa sebentar lagi bukaan akan bertambah.  Suami mulai bingung......harus bagaimana? Antara tega dan tidak.  Akhirnya saya putuskan untuk terus berusaha.  Akhirnya di jam 03.25 bayi perempuan saya yang mungil lahir kedunia dengan selamat, setelah sebelumnya saya mengeden 4 kali, dengan kasus dua kali salah mengeden.  Suami sempat ngedumel 'orang udah susah susah ngeden, malah dibilang salah.....pake disuruh ngulang lagi!!!'  Hahaha.........biar suami tau deh, kalau jadi ibu itu susah, ga gampang.....

Enam jam setelah dijahit, mulai latihan duduk, walau sedikit ngilu, belajar ke kamar mandi sendiri, tetapi suster selalu datang untuk mengecek keadaan, mengukur tekanan darah dan suhu tubuh, mengecek jahitan dan rahim.

Kalau soal proses pemulihan, memang rasa sakit lebih cepat hilang, tetapi kalau berjongkok atau proses bab, masih terasa ngilu sampai seminggu lebih.  Kalau caesar, pemulihan lebih lama, sekitar dua minggu, tetapi proses bak atau bab lebih nyaman.

Kalau menurut saya, normal atau caesar, plus minus, baik soal biaya dan proses pemulihan.  Tapi keduanya sah sah saja buat seorang ibu, yang penting nyaman dan tenang, yang paling penting.....bayi dan ibu selamat.

Nah.....buat temen temen yang bingung, mau proses lahiran normal atau caesar, keduanya aman, terutama dunia kedokteran sudah lebih canggih, jahitan rapih dan tidak bernanah dan cepat pulih.  Jadi....tentukan pilihan dari sekarang.....normal atau caesar........


Comments

Popular posts from this blog

Menikmati Profesi Sekretaris

Suka Duka jadi Sekretaris

Contoh Surat Keluhan Kepada Pihak Bank