Realitas : PilPres 9 Juli 2014

Hai....hai....

Hari ini hari bersejarah buat bangsa Indonesia, hari dimana kita meluangkan waktu 5 menit untuk menentukan nasib bangsa 5 tahun kedepan.  Saya dan keluarga sangat antusias untuk mencoblos.

Pada masa kampanye, begitu banyak perang pendapat yang terpapar di media sosial.  Masing masing mendukung jagoannya.  Saling menjatuhkan dan melempar tudingan pun berseliweran.  Mereka saling klaim bahwa pilihan mereka yang terbaik, bahwa stasiun tv yang mereka tonton adalah sumber berita terlengkap dan ter akurat.

Tidak hanya dikalangan masyarakat awam, dikalangan artis pun terbelah menjadi dua kubu.  Apalagi sejak ada konser besar besaran mendukung salah satu capres, menambah daftar gap yang tercipta karena PilPres.

Belum lagi dua televisi berita terbesar di Indonesia yang menyampaikan informasi yang tidak berimbang, karena lebih condong ke salah satu pasangan capres dan cawapres.

Dari beberapa media online yang saya baca, salah satu capres bahkan marah kepada beberapa peliput, karena media mereka dituding telah memberitakan informasi yang tidak benar dan tidak bertanggung jawab.

Pada saat bangun pagi, saya berharap semoga......semoga....setelah pencoblosan, perang tudingan bakal berakhir, ternyata.....hasil quick account malah memperkeruh suasana (menurut saya).   Karena semua mengklaim hasil survey dari lemabaga yang mereka usung adalah yang paling kredibel, sehingga membuat bingung penonton.

Yang lebih keruh lagi, saat salah satu pasangan capres dan cawapres telah mendeklarasikan kemenangan mereka berdasarkan quick account.  Padahal hasil dari 4 lembaga survey menyatakan kemenangan salah satu pasangan hanya beda tipis dari pasangan lainnya, yang berarti hasil dapat berubah kapan saja, apalagi belum ada pengumuman resmi dari KPU.

Demokrasi di Indonesia sudah berjalan dengan baik, terbukti dari antusiasme masyarakat yang begitu tinggi untuk mencoblos.   Kita semua pasti berharap.......siapapun pemenangnya, bisa memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara, dan yang kalah  bisa menerima dengan lapang dada.   


Comments

Popular posts from this blog

Menikmati Profesi Sekretaris

Suka Duka jadi Sekretaris

Contoh Surat Keluhan Kepada Pihak Bank